Desa Pengabuan Timur Gelar Sedekah Adat, Wujud Syukur dan Ajang Silaturahmi Warga
PALI – Dalam upaya melestarikan tradisi dan mempererat kebersamaan masyarakat, Pemerintah Desa Pengabuan Timur, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menggelar kegiatan Sedekah Adat di sepanjang Jalan Pertamina Pengabuan Timur, Minggu (2/11/2025) mulai pukul 07.00 WIB.
Tradisi Sedekah Adat ini rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas limpahan rezeki dan keselamatan selama satu tahun terakhir. Acara berlangsung meriah dan penuh kekeluargaan, dihadiri oleh para tokoh masyarakat, perangkat desa, pemuka agama, serta ratusan warga dari berbagai lapisan.
Berbagai kegiatan adat turut memeriahkan acara tersebut, mulai dari doa bersama, makan bersama, hingga pertunjukan kesenian tradisional seperti pencak silat yang menjadi daya tarik utama bagi warga. Selain itu, masyarakat juga membawa hasil bumi dan makanan tradisional sebagai simbol rasa syukur dan bentuk kebersamaan.
Kepala Desa Pengabuan Timur, Ipey Sastra, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya sebatas tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki makna sosial yang sangat dalam bagi masyarakat desa.
“Ini adalah ajang silaturahmi masyarakat Desa Pengabuan Timur sekaligus bentuk rasa syukur kita kepada Sang Pencipta atas nikmat dan keberkahan yang diberikan,” ujar Ipey Sastra di sela kegiatan.
Ia menambahkan, melalui kegiatan ini masyarakat diharapkan dapat terus menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial yang menjadi ciri khas kehidupan desa.
“Kami ingin agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai tradisi adat seperti ini. Selain menjaga warisan leluhur, Sedekah Adat juga memperkuat rasa persaudaraan antarwarga,” tambahnya.
Acara yang berlangsung hingga siang hari itu ditutup dengan doa bersama dan pembagian makanan kepada masyarakat sekitar. Suasana penuh kehangatan tampak dari antusiasme warga yang hadir, menjadikan tradisi Sedekah Adat tahun ini bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai momen memperkuat solidaritas sosial di tengah kehidupan modern. (Lidian Heri)
