POTRETANDALAS.COM – Siti, seorang ibu muda yang cantik, menceritakan pengalamannya mengikuti ritual pesugihan di Gunung Kemukus setelah usahanya di Channel Youtube Expedisi kang Odenk mengalami kegagalan beberapa waktu yang lalu. Kisah Siti Jalani Pesugihan Gunung Kemukus, Usaha Laris Manis dan Kaya Raya.
Pada awal kisahnya, Siti, yang berasal dari Kalimantan, memiliki seorang suami dan satu anak. Siti dan suaminya memiliki usaha bersama yang semakin terpuruk dan akhirnya bangkrut. Mereka sepakat untuk menjual semua aset yang dimiliki dan pindah ke Banyuwangi untuk memulai hidup baru. Namun, setelah beberapa bulan, suaminya ingin kembali ke Kalimantan karena tidak melihat perkembangan kehidupan di Jawa. Ia memilih bekerja di Kalimantan untuk membiayai keluarganya.
Karena rumahnya berdekatan dengan tetangga, Siti sering bercanda dan bersenda gurau. Suatu hari, ia curhat kepada tetangga sebelah rumahnya, Sugeng, yang juga memiliki istri dan anak.
Sugeng, sebagai tetangga dekat, ingin membantu Siti untuk melancarkan usahanya. Ia mengajak Siti untuk mengikuti ritual pesugihan di Gunung Kemukus yang ia ketahui sebelumnya.
Namun, Siti menolak ajakan tersebut karena ia tidak ingin menggunakan cara yang tidak benar untuk meraih kesuksesan. Meski begitu, Sugeng tidak menyerah dan terus meyakinkan Siti untuk mencobanya. Setelah beberapa waktu, Siti mulai berpikir bahwa mungkin saja ia perlu mencoba cara tersebut.
Melihat Siti sudah mulai terbuka pikirannya, Sugeng memperkenalkan Siti kepada temannya, Haji Soleh, yang kaya raya dan pernah mengikuti ritual pesugihan tersebut. Haji Soleh menceritakan pengalamannya kepada Siti dan membuat hatinya semakin goyah. Akhirnya, Siti dan Sugeng membuat rencana untuk mengantarkan Siti ke Gunung Kemukus untuk mengikuti ritual tersebut.
Pada suatu hari Rabu, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Gunung Kemukus. Mereka percaya bahwa ritual yang paling baik dilakukan pada malam Jum’at Pon. Meskipun mereka tidak pergi bersama-sama karena memiliki keluarga masing-masing.
Kisah Siti Jalani Pesugihan Gunung Kemukus, Usaha Laris Manis dan Kaya Raya
Ketika mereka tiba di sana, Siti yang telah diantar oleh Sugeng langsung bertemu dengan seorang Kuncen. Sang Kuncen menjelaskan dengan jelas dan terperinci mengenai ritual yang akan dilakukan. Di sini, pesugihan tidak membutuhkan tumbal, hanya perlu melakukan hubungan badan dengan orang selain suami sahnya. Siti diminta untuk memilih pasangannya. Karena Siti datang bersama Sugeng, maka ia memilih Sugeng sebagai pasangan ritualnya. Kemudian sang Kuncen membacakan semua ritual yang harus di lakukan.
Selanjutnya, Siti di mandikan oleh Kuncen. Setelah semuanya bersih, ia di berikan kain putih sebagai dasar untuk melakukan hubungan intim, serta minyak yang akan dioleskan di kening, pusar, dan kemaluan. Hal yang sama juga di berikan kepada Sugeng sebagai persyaratan ritual.
Kemudian, Kuncen membawa Siti untuk ziarah ke makam Ontrowulan. Siti mengikutinya dari belakang. Setelah selesai, mereka berziarah ke makam Pangeran Samudra. Kuncen mengambil bunga kantil putih dan memberikannya kepada Sugeng.
Kemudian, Kuncen membimbing Siti ke kamar penginapan dan melaksanakan ritual yang intim. Siti dengan hati-hati membuka kain putih yang telah di siapkan, sementara mereka berdua mengoleskan minyak di tempat yang telah di tentukan sebelumnya.
Mereka berdua membaca mantra bersama-sama, “Pangeran Samudra, Dewi Ontrowulan, saya melakukan ritual ini semata-mata untuk menjual kenikmatan saya. Saya memohon harta 7 lapis, 7 bumi,” begitulah mantra yang mereka ucapkan.
Tiba-tiba, angin kencang datang seperti badai. Setelah angin reda, mereka berdua melanjutkan hubungan intim. Setelah selesai, Siti membersihkan air mani Sugeng dan membungkusnya dengan tisu, lalu memberikan minyak dan bunga kantil.
Keesokan harinya, Siti bertemu dengan Kuncen. “Ini untukmu,” kata Kuncen kepada Siti. “Kamu harus melaksanakan ritual ini sebanyak 7 kali berturut-turut. Jangan lupa, pada Jumat Pon bulan depan kamu harus melaksanakan ritual seperti ini lagi, dan seterusnya,” jelas Kuncen.
Siti melanjutkan ritual tersebut setiap Jumat Pon berikutnya hingga mencapai keempat kali. Namun, pada kali kelima, Siti benar-benar tidak memiliki uang sedikit pun untuk pergi.
Mereka berdua juga tidak memiliki uang, karena hingga keempat kali ritual di lakukan, belum ada hasil yang terlihat. Sugeng mengusulkan untuk melaksanakan ritual lagi, tetapi Siti menolak karena menurutnya itu hanya membuang-buang uang tanpa hasil.
Dapat uang Rp 48 Juta dari orang tak dikenal
Pada suatu pagi, ketika Siti sedang duduk termenung di rumah, ada seseorang yang datang mengetuk pintu. Setelah pintu di buka, orang tersebut memberikan amplop coklat kepada Siti dan meletakkannya di meja. Siti membuka amplop tersebut dan terkejut melihat isi uang sebesar 48 juta
Siti dan Sugeng saling menghubungi, dan mereka menerima amplop yang sama. Mereka kemudian merencanakan untuk melakukan ritual yang kelima. Ternyata, usaha mereka semakin sukses, buka dari pagi hingga malam. Omzet dari salon mereka terus meningkat.
Biasanya mereka hanya mendapatkan 500 ribu hingga 2 juta dalam sehari, namun sekarang mereka bisa mencapai 7-8 juta sehari. Terkadang mereka bahkan harus menolak pelanggan karena terlalu banyak. Usaha goreng-gorengan mereka juga semakin lancar dan mereka terus menambah karyawan.
Akhirnya, Siti menjadi kaya raya dan memiliki rumah besar serta mobil mewah. Namun, sebaliknya Sugeng semakin terpuruk dan memiliki banyak hutang. Sugeng selalu meminta bantuan kepada Siti, dan Siti dengan senang hati membantunya.
Di dalam hati Siti, ia ingin mengajak suaminya pulang ke Banyuwangi agar mereka bisa hidup bersama karena sudah memiliki segalanya. Suaminya akhirnya kembali ke Banyuwangi dan hidup bersama Siti.
Pada ritual malam Jumat yang keenam, Siti dan Sugeng pergi lagi ke Gunung Kemukus. Usaha salon mereka terus menghasilkan keuntungan dan kekayaan mereka semakin bertambah. Namun, usaha Sugeng yang di bantu modal oleh Siti semakin merosot dan tidak ada perkembangan. Siti terus membantu Sugeng dan mereka sering berkomunikasi melalui chatting WhatsApp.
Suami Siti mencurigai ada sesuatu dan membaca percakapan di chatting WhatsApp yang tidak terhapus. Suaminya sangat marah dan emosi. Ia kemudian menemui Sugeng sambil membawa parang panjang.
Warga sekitar akhirnya mengetahui kejadian ini dan berkumpul untuk menemui Siti. Setelah melalui berbagai mediasi, akhirnya masalah terselesaikan. Sejak saat itu, kegiatan Siti selalu dipantau oleh suaminya.
Meskipun Siti gagal berangkat ke Gunung Kemukus untuk ritualnya, usahanya semakin lancar dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun, setelah dua bulan berlalu, usaha salon dan semua peralatannya terbakar habis.
Tidak ada yang tersisa, namun Siti tidak menyerah dan mencoba membangun kembali usahanya. Sayangnya, kali ini tidak seperti sebelumnya, tidak ada pemasukan yang masuk. Hanya pengeluaran yang terus meningkat, dan akhirnya Siti bangkrut.***




