PALI — Pertamina EP (PEP) Adera Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, mendorong kemandirian kesehatan dan ekonomi masyarakat melalui program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Program tersebut memberikan pendampingan kepada warga, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Selaras Alam, dalam mengelola tanaman obat keluarga (TOGA) secara lebih terencana dan bernilai ekonomi.
Program yang dijalankan sejak dilakukan pemetaan sosial di wilayah tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan tanaman herbal yang sebelumnya hanya digunakan secara sederhana oleh masyarakat. Keterbatasan akses dan biaya pengobatan membuat warga Desa Pengabuan sejak lama mengandalkan tanaman herbal untuk menjaga kesehatan keluarga, namun belum dikelola secara optimal.
Melalui program PERMATA, warga mendapatkan pelatihan terkait teknik budidaya tanaman herbal, proses pengolahan yang higienis, metode pengeringan yang tepat, hingga pengemasan produk herbal agar memiliki nilai jual. PEP Adera Field juga memfasilitasi pembangunan greenhouse sebagai sarana budidaya tanaman, dry house untuk proses pengeringan, serta sistem irigasi tetes (drip irrigation) otomatis guna memastikan kebutuhan air tanaman terpenuhi secara efisien.
Salah satu anggota KWT Selaras Alam, Hermanila, mengaku program tersebut membawa perubahan signifikan dalam pemanfaatan tanaman herbal di lingkungannya.
“Dulu kami hanya menanam dan memanfaatkan seadanya. Sekarang kami lebih paham bagaimana menjaga kesehatan dari apa yang kami tanam sendiri,” ujar Hermanila.
Ia menambahkan, keberadaan kebun herbal bersama tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga, tetapi juga berdampak pada penghematan biaya rumah tangga. Bahkan, pengeluaran biaya kesehatan keluarga anggota kelompok disebut mampu berkurang hingga sekitar 30 persen setiap bulan.
Selain itu, anggota KWT Selaras Alam kini telah mampu memproduksi berbagai olahan herbal, seperti sirup rosella, ramuan herbal instan, dan minuman tisane. Produk-produk tersebut mulai dipasarkan secara lokal dan memberikan tambahan penghasilan bagi anggota kelompok. Pendapatan anggota yang sebelumnya sekitar Rp1,5 juta per bulan kini meningkat menjadi rata-rata Rp4,2 juta per bulan.
“Rasanya lebih tenang karena kami bisa lebih mandiri untuk keluarga kami,” tambah Hermanila.
Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa program PERMATA merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Melalui PERMATA, warga diajak memahami pentingnya pola hidup sehat. Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari fasilitas besar, tetapi bisa dimulai dari apa yang mereka tanam dan konsumsi setiap hari,” jelas Iwan.
Saat ini, program PERMATA telah melibatkan sekitar 60 penerima manfaat aktif, dengan mayoritas peserta merupakan perempuan yang berperan sebagai penggerak utama di tingkat keluarga dan komunitas. Program tersebut diharapkan terus berkembang dan memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat desa.(Red)
