Di Balik Kemacetan Jalintim, Ada Dedikasi Tanpa Henti Personel Polda Sumsel

Oplus_131072

MUSI BANYUASIN — Senja perlahan turun di ruas Jalan Lintas Timur (Jalintim) Palembang–Jambi. Deretan kendaraan mengular panjang, lampu-lampu menyala bergantian, dan klakson bersahutan memecah suasana. Di tengah kepadatan itu, tampak sosok berseragam berdiri di antara arus lalu lintas—mengatur, mengarahkan, sekaligus memastikan perjalanan ribuan pemudik tetap berjalan.

Di titik Km 148 hingga Km 185, kawasan yang dikenal sebagai jalur vital penghubung Sumatera, kemacetan sempat menjadi tantangan serius dalam arus mudik tahun ini. Namun, bagi jajaran Polda Sumatera Selatan, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan lalu lintas, melainkan tanggung jawab kemanusiaan.

Kapolres Musi Banyuasin AKBP Ruri Prastowo memilih untuk tidak hanya memberi perintah dari balik meja. Ia turun langsung ke lapangan, memimpin personel mengurai kemacetan, bahkan hingga malam hari—saat waktu berbuka puasa dan sahur tiba.

Di Simpang Tungkal, tepatnya pada Km 148 hingga Km 160, kendaraan berat tampak mendominasi. Truk-truk logistik berjalan perlahan menaklukkan kontur jalan yang bergelombang dan bertanjakan. Sementara di Km 176 hingga Km 185, kepadatan semakin terasa dengan meningkatnya volume kendaraan pribadi yang menuju Jambi dan wilayah Sumatera bagian utara.

BACA JUGA:  Diduga Selewengkan Dana Desa, Kades Kuala Sungai Jeruju Bungkam Soal Realisasi Anggaran 2023–2024

Lonjakan arus sejak 14 Maret 2026 menjadi puncak dinamika perjalanan mudik. Banyak pengendara yang kelelahan, sebagian kendaraan mengalami gangguan, dan tak sedikit pula yang nekat melawan arus demi mempercepat perjalanan—yang justru memperparah kemacetan.

Di sinilah peran cepat dan terukur dari Polda Sumsel diuji.

Dengan strategi terpadu, personel di lapangan menerapkan sistem tarik arus, mengatur pengantongan kendaraan besar, serta sigap mengevakuasi kendaraan yang mengalami kerusakan. Alat berat dan derek disiagakan, menjadi bagian dari respons cepat yang memastikan tidak ada hambatan yang berlarut-larut.

Namun lebih dari sekadar pengaturan lalu lintas, ada sisi humanis yang turut hadir. Di sela kepadatan kendaraan, personel Polres Muba membagikan takjil kepada para pemudik. Senyum dan ucapan terima kasih mengalir, menjadi penyejuk di tengah perjalanan yang melelahkan.

BACA JUGA:  Tingkatkan Peran Ormas di Pilkada PALI, Ini yang Dilakukan Kesbangpol 

“Ini bukan hanya soal mengurai macet, tapi memastikan masyarakat tetap merasa aman dan diperhatikan,” ujar salah satu petugas di lapangan.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho menegaskan bahwa Jalintim merupakan jalur prioritas nasional yang tidak boleh terhambat.

“Jalur ini adalah nadi mobilitas masyarakat. Kami pastikan seluruh jajaran bergerak cepat dan responsif agar tidak terjadi kemacetan berkepanjangan,” tegasnya.

Komitmen tersebut terlihat nyata melalui sinergi lintas satuan. Dukungan dari Ditlantas hingga Brimob memperkuat pengamanan di titik-titik kritis. Koordinasi berjalan tanpa henti, seiring waktu yang terus bergerak dan arus kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Hasilnya mulai terasa. Perlahan namun pasti, kemacetan yang sempat mengular panjang berangsur terurai. Kendaraan kembali bergerak, dan perjalanan yang sempat tertahan kembali menemukan ritmenya.

BACA JUGA:  Polsek Talang Ubi Terus Hadir di Tengah Masyarakat Lewat KRYD: Menjaga Malam, Mewujudkan Rasa Aman

Bagi para pemudik, kehadiran polisi di sepanjang jalur bukan sekadar pengatur lalu lintas, melainkan penjamin harapan—bahwa perjalanan menuju kampung halaman akan sampai dengan selamat.

Di balik seragam dan tugas yang dijalankan, ada dedikasi yang tidak mengenal waktu. Bahkan saat sebagian orang berbuka puasa bersama keluarga, para petugas justru berbuka di tepi jalan, di antara deru mesin kendaraan dan debu perjalanan.

Polda Sumatera Selatan pun mengingatkan masyarakat untuk tetap tertib, tidak melawan arus, dan selalu mematuhi arahan petugas. Karena kelancaran perjalanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga kesadaran bersama.

Di Jalintim, arus kendaraan mungkin padat. Namun dengan kerja keras dan kepedulian, harapan tetap mengalir—mengantarkan setiap pemudik menuju tujuan, menuju keluarga, menuju kebahagiaan di hari yang fitri.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *