Kemarau 2026, Saat Asap Menutup Langit PALI dan Kebun Warga Ikut Jadi Korban

PALI — Langit di sejumlah wilayah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) tak selalu tampak biru pada musim kemarau 2026. Di beberapa kawasan, pandangan warga justru kerap diselimuti asap yang berasal dari kebakaran lahan.

 

Bagi masyarakat Desa Pengabuan dan Pengabuan Timur, Kecamatan Abab, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan jarak pandang. Asap dan kobaran api telah menjadi ancaman nyata bagi lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.

 

Sejumlah kawasan rawa seperti Jebakan Rawa Bor 6, Rawa Danau Pusar, Rawa Bencana Seratus, Rawa Sebabi hingga Rawa Paye Kapok terdampak kebakaran. Hingga Selasa, 15 September 2026, dampak kebakaran masih dirasakan masyarakat.

 

Api yang menjalar di lahan kering tidak hanya meninggalkan asap tebal. Sejumlah kebun milik masyarakat juga ikut terbakar. Tanaman dan lahan yang selama ini dirawat untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga pun terancam hilang.

BACA JUGA:  POLRES PALI GELAR PATROLI PERINTIS PRESISI, PANTAU KEAMANAN KAWASAN TALANG UBI DAN KOMPERTA

 

Bagi warga, kebun bukan sekadar hamparan tanah. Di sanalah sebagian penghasilan keluarga bergantung. Ketika api masuk ke areal perkebunan, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya berupa tanaman yang terbakar, tetapi juga harapan untuk memperoleh hasil dari kebun tersebut.

 

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup diselesaikan ketika api sudah membesar.

 

Pencegahan semestinya dimulai jauh sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Pemetaan kawasan rawan, pemantauan rutin, kesiapan personel dan peralatan hingga komunikasi cepat ketika muncul titik api menjadi bagian penting yang perlu diperkuat.

 

Kolaborasi Jangan Menunggu Api Membesar

 

Pemerintah Kabupaten PALI bersama pemerintah desa dan kecamatan dinilai perlu menjadikan kejadian selama kemarau 2026 sebagai bahan evaluasi.

 

Penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, masyarakat, aparat, dunia usaha dan seluruh unsur terkait perlu memiliki pola komunikasi yang jelas, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.

BACA JUGA:  Pastikan Bebas Narkoba, Polsek Talang Ubi Tes Urine Personelnya

 

Di wilayah Pengabuan dan Pengabuan Timur sendiri terdapat sejumlah perusahaan yang beroperasi, di antaranya PT Pertamina EP Adera Field, PT Medco E&P, PT GBS, PT Servo Lintas Raya dan PT EPI.

 

Keberadaan perusahaan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam pencegahan dan penanganan kebakaran, tentunya sesuai wilayah kerja serta kewenangan masing-masing.

 

Kolaborasi dapat diwujudkan melalui pemantauan kawasan rawan, dukungan kesiapan personel dan peralatan, edukasi kepada masyarakat serta membangun jalur komunikasi yang cepat ketika ditemukan titik api.

 

Sebab, dalam kondisi kemarau, keterlambatan beberapa jam saja dapat membuat api yang semula kecil berubah menjadi persoalan besar.

 

Kemarau yang Harus Menjadi Pelajaran

 

Musim kemarau 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai catatan tahunan. Kebakaran yang menyebabkan kebun warga ikut terdampak menjadi alarm agar sistem pencegahan karhutla di PALI diperkuat.

BACA JUGA:  Desa Pengabuan Timur Gelar Sedekah Adat, Wujud Syukur dan Ajang Silaturahmi Warga

 

Harapannya, pengalaman tahun ini tidak kembali terjadi pada musim kemarau berikutnya. Warga tidak lagi harus melihat kebunnya menjadi korban, sementara asap menutup langit dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

 

Pemkab PALI, pemerintah desa, masyarakat, perusahaan, aparat dan seluruh elemen terkait memiliki peran masing-masing dalam memutus rantai kebakaran lahan.

 

Api harus dicegah sejak awal, bukan menunggu menjadi besar.

 

Sebab, ketika asap sudah mengepung permukiman dan api mulai menyentuh kebun warga, yang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat.

 

Kemarau 2026 telah memberikan pelajaran. Tantangannya kini adalah memastikan pelajaran itu benar-benar menjadi langkah nyata agar PALI tidak kembali dikepung asap dan kebun warga tidak kembali menjadi korban.(Syam/waneli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *