Sagarurung, Warisan Rasa dari Abab yang Dilestarikan Lewat Bimtek Gastronomi

PALI-Desa Betung Barat, Kecamatan Abab, tampak lebih ramai dari biasanya. Di dalam balai desa, aroma asap ikan yang khas perlahan memenuhi ruangan, mengingatkan para peserta pelatihan pada cita rasa masa lalu—rasa yang nyaris terlupakan oleh gempuran makanan modern.

 

Ikan Sagarurung, kuliner khas Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menjadi pusat perhatian dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Gastronomi Sagarurung yang digelar pada 15–16 November 2025. Makanan tradisional yang terkenal dengan cita rasa pedas gurih serta aroma asap yang kuat ini telah lama menjadi kebanggaan masyarakat PALI, terutama di Kecamatan Abab.

 

Dahulu, Sagarurung dibuat menggunakan ikan kerandang—ikan lokal yang kini kian langka. Perubahan zaman membuat pengolah beralih menggunakan ikan patin, nila, gabus, hingga toman, tanpa menghilangkan karakter otentiknya. Namun kepopuleran Sagarurung ikut meredup seiring berkembangnya tren kuliner modern.

BACA JUGA:  Ringankan Beban Dampak Kenaikan BBM, Kapolres PALI Bagikan Bansos kepada PHL Polres

Di sinilah pentingnya Bimtek Gastronomi itu digelar: sebagai ikhtiar untuk menghidupkan kembali identitas kuliner warisan tersebut, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

Kepala Dinas Pariwisata PALI Novita Febriyanti melalui Staf Dinas Pariwisata, Teguh, menjelaskan bahwa kegiatan Bimtek ini menjadi langkah strategis untuk menjaga identitas Sagarurung tetap hidup di tengah masyarakat.

 

“Bimtek ini kami lakukan sebagai pengenalan gastronomi untuk mempertahankan identitas ikan segar Sagarurung, terutama bagi tim penggerak PKK dan para pelaku UMKM,” ujar Teguh, didampingi tim Bimtek Gastronomi PALI, Marfira Yansyah, M.Pd.

 

Menurutnya, pemahaman gastronomi tidak hanya soal cara memasak, tetapi juga cara menjaga nilai budaya dan meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasaran.

Kepala Desa Betung Barat, Razali, A.Md, bersama Ketua PKK Frestami, menyambut Bimtek ini sebagai kesempatan berharga bagi warganya. Desa Betung Barat adalah salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang dengan kuliner Sagarurung.

BACA JUGA:  Langkah Strategis Tingkatkan Kualitas, Pemkab Purwakarta Sertifikasi Ribuan Hektar Perkebunan Manggis

 

“Makanan ini punya nilai budaya yang tinggi. Kami ingin masyarakat kembali mengenal dan bangga pada kuliner asli PALI,” ujar Razali. Menurutnya, peningkatan keterampilan dan pengetahuan melalui Bimtek diharapkan mampu mendorong UMKM lokal lebih kreatif dan kompetitif.

Para peserta pun terlihat antusias mempelajari teknik pengolahan Sagarurung mulai dari pemilihan ikan, proses pengasapan, hingga pengemasan higienis. Mereka juga mendapat materi inovasi produk dan strategi pemasaran agar Sagarurung dapat masuk ke pasar yang lebih luas.

Dosen Politeknik Universitas Sriwijaya, Melati Pratama, S.TP., M.Si., CHE., CIQnR., hadir sebagai narasumber utama. Ia memperkenalkan konsep gastronomi sebagai kajian komprehensif tentang hubungan makanan dengan budaya, sejarah, serta nilai sosialnya.

BACA JUGA:  Polisi Bebusik Polres PALI Salurkan Bansos dan Layanan Kesehatan Gratis bagi Warga Sakit Menahun

 

“Gastronomi tidak hanya membahas cara memasak, tetapi juga bagaimana makanan menjadi identitas sebuah komunitas,” jelasnya.

 

Melalui pemahaman itu, para peserta diajak melihat Sagarurung bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari memori kolektif masyarakat Abab—yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan.

Kegiatan Bimtek yang berlangsung dua hari itu menjadi bukti nyata upaya masyarakat PALI menjaga tradisi kuliner mereka. Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, Sagarurung kini bukan hanya sebuah makanan, tetapi simbol ketahanan budaya.

 

Jika upaya ini terus digalakkan, bukan mustahil Sagarurung kembali menjadi ikon kuliner yang bukan hanya membanggakan secara budaya, tetapi juga mampu menopang ekonomi masyarakat PALI.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *