POTRETANDALAS.COM – Masyarakat Purwakarta semua pasti tau, bahwa selama ini, Dedi Mulyadi menjadikan Gedung Kembar yang berada dalam kawasan Station KA Purwakarta itu sebagai kantor.
Tak jarang terlihat, Dedi Mulyadi walaupun sudah tidak menjabat mengumpulkan para tamu pentingnya, para Kepala Dinas, Kabid, termasuk para pengusaha jasa konstruksi.
“Mau ke gedung kembar dipanggil Raja atau Jendral (sebutan bagi para pengikut Dedi Mulyadi)”, kata seorang pengusaha waktu itu.
Tak cuma Gedung Kembar, Tajug Gede Cilodong pun digunakan sama, selain sebagai tempat ibadah juga buat mengumpulkan orang – orang yang dianggap patuh titah sang Raja.
Tapi setelah pristiwa Gugat Cerai, kalimat biasa terdengar ditelingga ‘dipanggil Raja atau Jendral’ kedua tempat itu sudah tak ada. Kini beralih ke Lembur Pakuan Subang istilah untuk istana sang raja
Kasus gugat cerai Anne terhadap Dedi Mulyadi ternyata semakin memanas yang bermuara pada terusirnya Sang Raja atau Jendral drai Gedung Kembar dan Tajug Gede Cilodong.
Entah sudah berapa kali, 2 pejabat negara itu saling memberikan serangan baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
“Ceritanya Gedung Kembar ini 4 tahun digunakan secara ilegal tentu saja tidak ada ijin dari Pemerintah Daerah, karena ini aset pemda,” kata Ambu Anne Ratna seperti diberitakan oleh Suara Denpasar sebelumnya.
Usut punya usut, ternyata tak ada orang lain yang menghuni Gedung Kembar selain Dedi Mulyadi.
Hal ini juga turut dibuktikan dengan unggahan Kang Dedi di akun Instagramnya yang tampak sedih lantaran telah diusir dari Gedung Kembar yang dulu disulapnya jadi museum digital.
Nampak dalam unggahannya itu, Kang Dedi tengah memindahkan dan mengemasi barang-barangnya yang dulu diletakkan di Gedung Kembar.
“Pindahkan barang kenangan dari gedung kembar menuju tempat baru,” tulisnya mengawali.
Yang cukup mengejutkan, Kang Dedi juga mengungkapkan kesedihannya yang seolah olah telah terusir dari rumahnya sendiri.
Padahal jika dilihat kembali, Gedung Kembar adalah aset milik Pemda Purwakarta meskipun dulunya ada jasa Dedi Mulyadi dalam perkembangannya.
“Terimakasih gedung kenangan, segudang karya tercipta. Maafkan aku telah menjadi beban hidupmu,” lanjut Kang Dedi Mulyadi.
Sekedar diketahui, istilah Playing Victim adalah sebuah tindakan berlagak seolah menjadi korban padahal sejatinya dirinyalah yang membuat masalah.
Dalam kasus Kang Dedi ini, ia terbukti memang telah bersalah menggunakan Gedung Kembar secara ilegal namun kemudian sikapnya yang seolah menjadi korban ini akhirnya berhasil membuat publik menaruh simpati kepadanya.
Di lain sisi, Ambu Anne yang hanya melaksanakan tugas sebagai pimpinan Purwakarta, justru harus menuai hujatan dari netizen yang membela Kang Dedi Mulyadi.
